Kamis, 28 Februari 2013

PANDUAN SELEKSI MASUK TNI/POLRI

         Sebelum Anda mendaftar dan mengikuti seleksi menjadi prajurit TNI/Polri, alangkah bijaksana jika melengkapi pengetahuan Anda tentang seluk-beluk seleksi itu sendiri. Karena dengan berbekal pengetahuan yang cukup, maka sangatlah besar kemungkinan Anda untuk lulus dalam seleksi tersebut.

Silahkan membaca tulisan saya hingga selesai, semoga bermanfaat bagi Anda.


7 PERSEPSI (PANDANGAN) NEGATIF TENTANG SELEKSI MASUK MENJADI PRAJURIT TNI/POLRI DAN BAGAIMANA MENYIKAPINYA. (Temukan jawabannya di Buku Panduan Seleksi Masuk Prajurit TNI/Polri).

Masyarakat pada umumnya banyak yang mempunyai persepsi (pandangan) yang salah tentang seleksi masuk menjadi prajurit TNI/Polri. Beberapa persepsi (pandangan) yang salah tersebut apabila dibiarkan sangat merugikan Institusi TNI/Polri karena menimbulkan citra negatif dan juga merugikan bagi generasi muda yang berminat menjadi prajurit TNI/Polri. Khususnya bagi para orang tua dan generasi muda yang mempunyai minat untuk menjadi Prajurit TNI/Polri persepsi yang keliru tersebut dapat melemahkan semangat dan motivasi untuk mengikuti test seleksi menjadi Prajurit TNI/Polri. Adapun persepsi (pandangan) yang negatif tentang seleksi masuk menjadi prajurit TNI/Polri adalah sebagai berikut :

a. Yang Lulus Dalam Seleksi Masuk Prajurit TNI/Polri adalah Orang Yang Mampu Membayar. Selama ini terdapat persepsi/anggapan di masyarakat bahwa yang bisa masuk lulus seleksi menjadi anggota TNI/Polri adalah hanya untuk orang atau kalangan yang mampu membayar sejumlah dana kepada oknum tertentu bahkan ada yang beranggapan sudah terorganisir. Menurut pendapat saya hal tersebut bisa benar atau tidak tergantung dari sudut mana kita memandang masalah tersebut. Apabila dipandang dari sudut orang yang pernah mengikuti seleksi menjadi anggota TNI/Polri baik sebagai orang tua / anak yang terlibat seleksi memang mengeluarkan sejumlah dana, maka menyatakan persepsi tersebut adalah benar. Namun apabila ada orang tua / anak yang terlibat dalam seleksi menjadi anggota TNI/Polri tidak mengeluarkan biaya apapun, maka menyatakan persepsi tersebut adalah tidak benar dan hanya merupakan rumor atau isu belaka. Secara kedinasan bahwa seluruh proses seleksi menjadi anggota TNI/Polri dari tingkat Daerah sampai tingkat Pusat adalah tidak dipungut biaya apapun. Namun dalam prakteknya, ada oknum yang memanfaatkan kesempatan seleksi menjadi anggota TNI/Polri tersebut sebagai sebuah peluang untuk mendapatkan sejumlah uang. Jadi yang terjadi sebenarnya adalah bahwa yang bisa lulus menjadi anggota TNI/Polri adalah bukan mereka yang mampu membayar sejumlah uang, namun semua peserta seleksi yang memenuhi syarat dan lulus seluruh tahapan seleksi dari tingkat Daerah sampai dengan tingkat Pusat. Dan perlu diketahui bahwa, apabila dalam proses seleksi penerimaan prajurit TNI/Polri terbukti melakukan praktek suap maka Institusi TNI/Polri tidak akan segan untuk mengambil tindakan dengan mengeluarkan Calon Prajurit tersebut dari Lembaga Pendidikan dan hal ini sudah dilaksanakan.

b. Yang Lulus Dalam Seleksi Masuk Prajurit TNI/Polri adalah Anak atau Keluarga dari Anggota TNI/Polri. Persepsi yang berkembang di masyarakat saat ini adalah bahwa kebanyakan yang berhasil dalam seleksi menjadi Prajurit TNI/Polri adalah anak atau keluarga dari anggota TNI/Polri. Anggapan tersebut adalah tidak benar, karena pada saat pengumuman penerimaan menjadi Prajurit TNI/Polri adalah secara transparan/terbuka untuk semua anggota masyarakat dan tidak hanya untuk keluarga TNI/Polri. Namun apabila dalam kenyataan bahwa lebih banyak yang mendaftar dalam seleksi prajurit TNI/Polri adalah mereka yang mempunyai pertalian saudara atau anak dari anggota TNI/Polri mungkin ada benarnya. Karena secara hukum alam, secara institusi bahwa informasi adanya pendaftaran menjadi prajurit TNI/Polri adalah institusi yang bersangkutan, oleh karena itu anggota TNI/Polri akan lebih tahu lebih dahulu. Namun anggota masyarakat yang berminat / putranya akan mendaftar menjadi prajurit TNI/Polri dapat menanyakan langsung kepada tempat-tempat penerimaan baik TNI/Polri dan saat ini dengan adanya Jaringan Internet, maka pengumuman pendaftaran Penerimaan Prajurit TNI/Polri bias diperoleh kapan saja (online). Kemudian apabila banyak anak atau saudara dari anggota TNI/Polri yang masuk dalam seleksi tersebut, menurut pendapat saya adalah karena anak atau saudara dari anggota TNI/Polri tersebut sebelum melaksanakan seleksi telah dipersiapkan / dilatih terlebih dahulu, sehingga lebih siap secara fisik maupun mental. Perlakuan dalam pelaksanaan seleksi bagi semua peserta seleksi menjadi prajurit TNI/Polri adalah sama, tidak dibedakan antara anak / saudara anggota TNI / Polri dengan anak dari anggota masyarakat pada umumnya dan dilaksanakan secara transparan. Jadi setiap orang yang ingin mengikuti seleksi menjadi prajurit TNI/Polri adalah harus mengerti dan tahu apa yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi setiap tahap seleksi agar lulus baik di tingkat Daerah maupun tingkat Pusat.

c. Untuk Bisa Lulus Dalam Seleksi Masuk Prajurit TNI/Polri Harus Mempunyai Kenalan Pejabat TNI/Polri. Adanya anggapan yang berkembang di masyarakat, bahwa untuk lulus seleksi menjadi prajurit TNI/Polri kita harus mempunyai kenalan Pejabat dari TNI/Polri adalah tidak benar. Menurut saya untuk mendaftar dan ikut seleksi menjadi prajurit TNI/Polri tidak harus mempunyai kenalan pejabat baik TNI maupun Polri. Karena dalam proses seleksi menjadi prajurit TNI/Polri dilaksanakan secara transparan dan terbuka untuk umum, bukan hanya yang mempunyai kenalan pejabat TNI/Polri. Siapapun baik yang kenal maupun tidak kenal dengan pejabat TNI/Polri seluruh peserta seleksi akan diperlakukan yang sama dan tidak akan mempengaruhi pelaksanaan seleksi. Walaupun tidak mempunyai kenalan pejabat TNI/Polri, namun peserta seleksi mempunyai kemampuan dan lulus dalam setiap tahapan seleksi dari tingkat Daerah sampai dengan tingkat Pusat maka ia akan lulus tanpa hambatan suatu apa. Namun walaupun mempunyai kenalan pejabat baik TNI/Polri, namun tidak memiliki kemampuan dan tidak lulus dalam tahapan seleksi baik di tingkat Daerah maupun di tingkat Pusat, maka tidak akan lulus menjadi prajurit TNI/Polri. Jadi tidak perlu ragu atau cemas bahwa jika ingin menjadi prajurit TNI/Polri dan lulus / berhasil itu harus mempunyai kenalan pejabat TNI/Polri. Namun yang perlu dipikirkan adalah, bahwa untuk lulus dalam seleksi menjadi prajurit TNI/Polri apa yang perlu dipersiapkan, apa yang perlu diketahui dan apa yang harus dilatih itu lebih penting.

d. Calon Yang Lulus Dalam Seleksi Prajurit TNI/Polri Adalah Yang Dekat Dengan Instansi TNI/Polri. Terdapat persepsi di masyarakat bahwa kebanyakan yang berhasil dalam seleksi menjadi prajurit TNI/Polri adalah yang berdomisili atau bertempat tinggal dekat dengan Instansi TNI/Polri. Anggapan seperti ini adalah tidak benar, karena seleksi menjadi prajurit TNI/Polri adalah untuk seluruh Warga Negara dimanapun tempat tinggalnya. Selama yang bersangkutan mau mendaftar dan mengikuti seluruh tahapan dalam seleksi masuk menjadi prajurit TNI/Polri, maka ia mempunyai kesempatan yang sama baik yang tempat tinggalnya dekat maupun yang tempat tinggalnya jauh dari Instansi TNI/Polri. Hanya saja bagi yang mempunyai tempat tinggalnya dekat dengan Instansi TNI/Polri tempat dimana dilaksanakan seleksi, maka ia mempunyai waktu yang lebih banyak untuk mempersiapkan diri dalam seleksi tersebut dibandingkan dengan yang tempat tinggalnya jauh. Karena selama seleksi, banyak sekali waktu yang dibutuhkan untuk mengurus segala keperluan administrasi yang harus diselesaikan dalam waktu yang singkat / terbatas. Hal ini dapat menyebabkan orang yang tinggal lebih dekat dengan tempat seleksi akan memperoleh hasil test yang lebih baik, jika dibandingkan dengan orang yang tinggalnya jauh dari tempat seleksi karena banyak kehilangan tenaga / energi. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada hubungan secara langsung antara tempat tinggal seseorang dengan keberhasilannya dalam seleksi menjadi prajurit TNI/Polri. Namun apabila seseorang tinggal dekat dengan tempat dilaksanakannya seleksi, minimal akan menghemat pengeluaran biaya transportasi maupun waktu yang dibutuhkan. Disamping itu, dengan tinggal dekat tempat pelaksanaan seleksi maka akan mempunyai waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri dalam setiap tahap seleksi.

e. Seleksi Masuk Menjadi Prajurit TNI/Polri Memerlukan Biaya Yang Banyak. Anggapan yang berkembang di masyarakat, bahwa seleksi masuk menjadi prajurit TNI/Polri memerlukan biaya yang banyak / besar. Menurut pendapat saya anggapan tersebut adalah tidak benar, karena seluruh proses tahapan seleksi baik di tingkat Daerah maupun di tingkat Pusat adalah tidak dipungut biaya apapun. Biaya yang dikeluarkan adalah murni untuk keperluan pribadi dari peserta seleksi, misalnya untuk transportasi dan makan / minum selama seleksi di tingkat Daerah sedangkan di tingkat Pusat kebutuhan penginapan, makan dan minum adalah sudah ditanggung oleh Panitia Seleksi. Namun apabila dalam proses seleksi, ada oknum yang menawarkan jasa serta meminta sejumlah uang, itu adalah diluar kebutuhan secara resmi proses seleksi dan hal tersebut sangat dilarang dan jika diketahui oleh Panitia Seleksi, maka seseorang yang sudah dinyatakan lulus dan sedang melaksanakan Pendidikan Pertama dapat diberikan sanksi dikeluarkan dari pendidikan tersebut. Setiap seleksi apapun bentuknya tetap mengeluarkan biaya, namun seleksi masuk menjadi prajurit TNI/Polri relatif tidak diperlukan biaya yang besar dan hanya untuk keperluan pribadi dan apabila timbul biaya diluar yang ditetapkan oleh Panitia Seleksi adalah diluar tanggung jawab Institusi TNI/Polri.

f. Orang Yang Lulus Seleksi Prajurit TNI/Polri Karena Memiliki Kenalan Orang Dalam (Panitia Seleksi). Setiap seleksi apapun tujuannya termasuk seleksi masuk menjadi prajurit TNI/Polri ada yang lulus / berhasil dan juga ada yang gagal / tidak berhasil. Namun adanya anggapan bahwa yang berhasil / lulus dalam seleksi menjadi prajurit TNI/Polri adalah karena memiliki orang dalam adalah tidak benar. Dalam sistem seleksi penerimaan prajurit TNI/Polri tidak dikenal adanya perbedaan dalam perlakuan terhadap peserta seleksi, baik yang mempunyai kenalan dengan orang dalam maupun yang tidak mempunyai kenalan semuanya diperlakukan sama. Berhasil lulus atau tidak lulus tidak ditentukan ada atau tidaknya memiliki kenalan dengan orang dalam, namun ditentukan oleh peserta seleksi itu sendiri yaitu siap dan tidak siapnya dalam berkompetisi secara sehat. Keberhasilan peserta seleksi masuk menjadi prajurit TNI/Polri sangat tergantung dari persiapan dan usaha yang telah dilaksanakan dalam setiap tahap seleksi dari tingkat Daerah sampai dengan tingkat Pusat dan bukan karena adanya kenalan dengan orang dalam. Setiap peserta seleksi calon prajurit TNI/Polri memiliki kesempatan yang sama untuk lulus seleksi, tergantung nilai yang diperoleh yaitu semakin tinggi / baik nilai yang diperoleh maka kemungkinan lulus akan semakin besar.

g. Calon Yang Lulus Seleksi Prajurit TNI/Polri Adalah Karena Mempunyai Surat Sakti (Sponsorship) Dari Pejabat Baik TNI/Polri Maupun Sipil. Setiap pelaksanaan seleksi masuk menjadi prajurit TNI/Polri sudah pasti akan timbul persepsi/anggapan bahwa kebanyakan orang yang lulus seleksi adalah karena mempunyai Surat Sakti dari pejabat baik TNI/Polri maupun pejabat Sipil. Menurut pendapat saya anggapan tersebut tidaklah benar secara keseluruhan, walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa dalam setiap seleksi penerimaan prajurit TNI/Polri ada yang memanfaatkan peluang dengan membuat Sponsorship (Surat Sakti / Surat Dukungan) dari seorang Pejabat dengan harapan dapat membantu dalam proses seleksi tersebut. Namun perlu diketahui, bahwa tidak selamanya dengan menggunakan Sponsorship dari Pejabat dapat menjamin 100 % akan lulus dalam seleksi tersebut dan sangat tergantung dari calonnya sendiri apakah memenuhi syarat sesuai standar minimum yang telah ditetapkan oleh Panitia Seleksi atau tidak. Jika tidak, maka calon tersebut juga tidak akan diluluskan walau mempunyai Sponsorship. Sponsorship akan digunakan apabila calon tersebut telah lulus seleksi hingga tingkat Pusat dan akan dipakai sebagai pertimbangan apabila ada dua calon yang mempunyai nilai yang sama, namun salah satu harus digugurkan maka calon yang memiliki Sponsorship akan dipilih untuk diluluskan. Jadi semua peserta seleksi mempunyai kesempatan yang sama untuk lulus dalam seleksi penerimaan prajurit TNI/Polri. Oleh karena itu, setiap peserta seleksi calon prajurit TNI/Polri harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai / rangking yang tinggi agar kemungkinan untuk digugurkan karena faktor Sponsorship menjadi lebih kecil.



6 KESALAHAN DALAM TEST SELEKSI MASUK PRAJURIT TNI/POLRI DAN BAGAIMANA SOLUSINYA. (Temukan jawabannya di Buku Panduan Seleksi Masuk Prajurit TNI/Polri).

Banyaknya peserta seleksi masuk menjadi prajurit TNI/Polri yang tidak lulus / gagal disebabkan oleh berbagai faktor. Namun yang paling dominan adalah karena para peserta seleksi tidak mempunyai pengetahuan tentang jenis dan bentuk seleksi serta standarisasi penilaian. Sehingga dalam melaksanakan seleksi masuk menjadi calon prajurit TNI/Polri, para peserta seleksi tidak mengerti apa yang harus dipersiapkan, apa yang harus dipelajari dan apa yang harus dilatih. Dengan berbekal pengetahuan yang sangat kurang tersebut, maka dalam melaksanakan seleksi masuk menjadi calon Prajurit TNI/Polri terjadi berbagai kesalahan yang seharusnya dapat dihindari atau diantisipasi. Untuk mengetahui apa yang menjadi kesalahan para peserta seleksi dan bagaimana mendapatkan solusinya, ikutilah penjelasan saya sebagai berikut :

a. Tidak Memeriksakan Kesehatan Terlebih Dahulu. Sudah menjadi fenomena umum bahwa kegagalan peserta seleksi masuk menjadi prajurit TNI/Polri rata-rata 50 % adalah dikarenakan tidak lulus / gagal pada Test Kesehatan. Pada umumnya baik orang tua maupun peserta seleksi adalah tidak tahu atau tidak mengerti bentuk test kesehatan meliputi apa saja dan bagaimana standar kelulusan. Disamping itu, untuk mengetahui hal tersebut baik orang tua maupun peserta seleksi biasanya malu bertanya dan tidak tahu bertanya kepada siapa tentang Test Kesehatan. Dan apabila mendapat jawabanpun tidak akan tahu secara lengkap. Apabila para orang tua dan peserta seleksi mengerti tentang bagaimana bentuk seluruh test kesehatan dan standar penilaian, maka tidak menutup kemungkinan akan lebih banyak yang lulus dalam tahap seleksi kesehatan. Tanpa dibekali ilmu tentang kesehatan tersebut, biasanya peserta test hanya berspekulasi (untung-untungan / pasrah) langsung melaksanakan test kesehatan sesuai jadwal yang ditetapkan. Padalah yang namanya seleksi apapapun bentuknya harus mempunyai ilmu tentang hal tersebut dan diusahakan semaksimal mungkin untuk lulus. Agar pada test kesehatan lebih besar peluangnya untuk lulus, maka peserta seleksi harus melaksanakan test kesehatan pendahuluan dengan tujuan untuk mengetahui potensi diri di bidang kesehatan dan apabila ada kekurangan / penyakit bisa diobati terlebih dahulu. Namun para orang tua dan peserta seleksi juga harus tahu dimana melaksanakan test kesehatan pendahuluan sesuai standar, mengapa harus dilaksanakan test pendahuluan, apa saja yang harus diperiksa, kapan waktu yang tepat untuk melaksanakannya serta bagaimana standarnya.

b. Kurangnya Latihan Kesamaptaan Jasmani / Olah Raga. Pada tahap seleksi kesamaptaan jasmani / Olah raga banyak peserta yang gagal / tidak lulus dan prosentasenya rata-rata mencapai 25 - 30 %. Dalam hal ini ada beberapa kemungkinan yaitu apakah karena peserta seleksi tersebut tidak pernah latihan olah raga, karena mentalnya kurang kuat sehingga mudah menyerah atau tidak tahu materi yang diujikan sehingga latihan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan yang diujikan. Dari peserta seleksi yang gagal / tidak lulus dalam tahap test kesamaptaan jasmani banyak yang menyatakan tidak pernah / kurang olah raga dan tidak mengetahui bentuk test serta standar penilaiannya. Sehingga sebelum melaksanakan test seleksi masuk menjadi prajurit TNI/Polri, para peserta test harus melaksanakan latihan kesemaptaan jasmani secara rutin dan teratur. Namun yang lebih penting adalah para orang tua dan para peserta seleksi harus mengetahui kapan waktu yang tepat melaksanakan latihan, bagaimana bentuk serta standar kelulusan test kesamaptaan jasmani, apa saja bentuk test kesamaptaan jasmani.

c. Tidak Mengerti dan Tidak Mengenal Test Psikotest. Tahap test Psikotest dalam seleksi menjadi prajurit TNI/Polri pagi para peserta seleksi merupakan saat yang menegangkan dan banyak ditakuti. Hal ini adalah wajar, karena pada tahap test psikotest rata-rata yang tidak lulus / gagal adalah mencapai 20 - 30 %. Beberapa kemungkinan yang menyebabkan peserta test seleksi banyak yang gagal / tidak lulus test psikotest adalah karena tidak pernah mengerti dan tidak pernah mengenal bentuk soal-soal psikotest, tidak siap mental dalam melaksanakan test psikotest, tidak tahu apa yang harus dipersiapkan dalam menghadapi test psikotest serta banyak melakukan kesalahan dalam melaksanakan test psikotest. Hal tersebut sebenarnya bisa diantisipasi dan dipelajari sebelum peserta seleksi melaksanakan test psikotest yang sesungguhnya agar kemungkinan lulus lebih besar. Sebelum melaksanakan test psikotest setiap peserta seleksi harus tahu secara jelas apa tujuan dilaksanakan test psikotest, dimana mendapatkan buku-buku psikotest, bagaimana bentuk soal psikotest, apa tips (apa yang harus dikerjakan dan apa yang tidak boleh dikerjakan) dalam test psikotest.

d. Persyaratan Administrasi kurang. Persyaratan administrasi yang dibutuhkan dalam seleksi masuk menjadi prajurit TNI/Polri, sebenarnya telah diumumkan / disampaikan pada saat pengumuman pendaftaran. Namun karena kurangnya kepedulian dan ketelitian serta tidak tahunya jadwal secara keseluruhan setiap tahapan seleksi, maka dapat menyebabkan peserta seleksi tidak dapat memenuhi persyaratan administrasi dan dinyatakan gagal / tidak lulus walaupun secara prosentase kegagalan pada tahap seleksi administrasi adalah sekitar 10 - 20 % namun tetap harus diperhatikan. Para peserta seleksi harus mengetahui, apa tujuan dilaksanakan test administrasi, berapa banyak kelengkapan test administrasi, kapan batas waktu yang ditetapkan panitia untuk menyerahkan persyaratan administrasi. Dengan mengetahui hal tersebut diharapkan, peserta seleksi akan lebih siap menghadapi test administrasi dan memperkecil kemungkinan kegagalan / tidak lulus dalam test administrasi tersebut.

e. Tidak Tahu tentang Bentuk Test Mental Idiologi. Pada umumnya peserta seleksi tidak mengetahui tentang bentuk test mental idiologi dan hal inilah yang menyebabkan prosentase yang tidak lulus / gagal mencapai 20 - 30 %. Karena kurangnya pengetahuan tentang test mental idiologi, maka banyak peserta test yang tegang dan grogi dalam melaksanakan test sehingga hasilnya tidak optimal. Apabila peserta test mengetahui bentuk dari test mental idiologi, saya yakin dan percaya akan lebih besar kemungkinannya untuk lulus dalam tahap test ini. Para peserta seleksi harus mengetahui apa maksud dilaksanakannya test mental idiologi, bagaimana bentuk materi test, data apa yang perlu dipersiapkan untuk mendukung test, buku-buku apa yang harus dibaca, bagaimana cara menjawab setiap pertanyaan yang diajukan.

f. Tidak Tahu tentang Bentuk Test Pantukhirda dan Test Pantukhir Pusat. Sebagai bentuk Final Test (test akhir) dalam seleksi penerimaan Prajurit TNI/Polri di Daerah disebut Pantukhirda (Panitia Penentu Akhir Daerah) dan di Pusat disebut Pantukhirpus. Baik Pantuhkirda maupun Pantukhirpus merupakan bentuk Test Akhir di Daerah/Pusat yang sangat menentukan dan prosentasi kegagalannya adalah 20 – 30 %. Test Pantukhir merupakan bentuk Test yang mempertemukan seluruh Panitia Seleksi (administrasi, kesehatan, jasmani, mental idiologi) dengan Peserta Test untuk dilihat kesesuaian Penilaian/Hasil Test masing-masing bidang (data tertulis) dengan bentuk Fisik dari setiap Peserta Seleksi/Test. Oleh karena itu, setiap orang yang akan melaksanakan Seleksi Masuk Prajurit TNI/Polri harus mengetahui bagaimana bentuk dan apa yang perlu dipersiapkan dari Test Pantukhirda/Pantukhirpus agar kemungkinan untuk lulus dalam test tersebut lebih besar.

Untuk menghilangkan 7 Persepsi (pandangan negatif) dan 6 Kesalahan dalam Seleksi Masuk Prajurit TNI/Polri, maka saya merekomendasikan Anda untuk membaca tulisan “Buku Panduan Seleksi Masuk Prajurit TNI/Polri”.


Dibawah ini, saya paparkan daftar isi "Buku Panduan Seleksi Masuk Prajurit TNI/Polri", semoga bermanfaat dan jika berminat silahkan untuk memilikinya sesuai dengan prosedur, tks.



DAFTAR ISI
BUKU PANDUAN SELEKSI MASUK PRAJURIT TNI/POLRI

Bab I Pendahuluan

1. Pendahuluan ……………………………………………………………….. 1
2. Maksud dan Tujuan ………………………………………………………. 2
3. Ruang Lingkup dan Tata Urut ………………………………………….. 3

Bab II Pelaksanaan Seleksi
1. Test Administrasi

a. Tahap Pendaftaran ………………………………………………… 4
b. Tahap Melengkapi Persyaratan Administrasi ………………… 5
c. Tahap Pengumpulan Persyaraatan Administrasi ……………. 6
d. Pemberangkatan Seleksi Tingkat Pusat ………………………. 6

1) Menyelesaikan Administrasi ……………………………. 6
2) Bekal Yang Harus Dibawa ………………………………… 7
3) Transportasi ………………………………………………..... 7

2. Test Kesehatan …………………………………………………………… 8

a. Test Kesehatan I (Pertama) ……………………………………..... 8

1) Mengukur Tinggi dan Berat Badan ……………………. 8
2) Test Tekanan Darah ……………………………………... 9
3) Test Kesehatan Gigi ……………………………………… 9

a) Jumlah Gigi ………………………………………... 9
b) Kerusakan Gigi ……………………………….…... 9
c) Bentuk Gigi ……………………………….………. 9
d) Warna Gigi …………………………………………. 9
e) Kerenggangan Gigi ………………………….…... 10

4) Test Kesehatan Mata ……………………………………... 10

a) Test Fisik …………………………………………. 10
b) Test Membaca ……………………………………... 10
c) Test Buta Warna ………………………………...… 11
d) Test Picing Mata ………………………………….. 11

5) Test THT ……………………………………………………. 11
6) Pemeriksaan Kelamin ......………………………………… 12

a) Laki-Laki ………………………………………….... 12
b) Wanita ……………………………………………… 13

7) Test Ambien ……………………………………………… 13
8) Test Jantung …………………………………………….. 14
9) Test Urine .………………………………………………. 14

b. Test Kesehatan II (Kedua) ……….…………………………….. 15

1) Test Darah Lengkap …………………………………… 15
2) Test Rongent/Sinar X ………………………………….. 15

c. Test Kesehatan Penerbang …………………………………….. 16

1) Test Keseimbangan ……………………………………. 16
2) Test Kapasitas Paru2 …………………………………… 17
3) Test Menahan Nafas …………………………………… 17
4) Test Meniup …………………………………………….. 18
5) Test Chamber Flight (Hipoksia) …………………….. 18
6) Test Centrifugal Force (Grafitasi) …………………… 19
7) Test Night Vision (Terbang Malam) …………………. 19

3. Test Kesemaptaan Jasmani …………………………………………….20

a. Test Samapta ………………………………………………………20

1) Calon Prajurit TNI/Polri “Pria” ………………………. 20

a) Test Kesemaptaan Jasmani “A” ……………. 20
b) Test Kesemaptaan Jasmani “B” ………..…... 20

(1) Pull Up ……………………………………… 20
(2) Sit Up ………………………………………. 20
(3) Push Up …………………………………… 20
(4) Shuttle Run ……………………………….. 20

2) Calon Prajurit TNI/Polri “Wanita” …………………… 21

a) Test Kesemaptaan Jasmani “A” …………… 21
b) Test Kesemaptaan Jasmani “B” ……………. 21

(1) Tarik Badan ……………………………….. 21
(2) Baring Duduk …………………………….. 21
(3) Tiarap Tumpu ……………………………. 21
(4) Lari Bolak-Balik .……………………….. 21

c) Cara Penilaian …………………………………. 21

b. Renang …………………………………………………………….. 22

1) Mengambang …………………………………………… 22
2) Berenang ……………………………………………….. 22

c. Test Postur ………………………………………………………... 23

1) Pengukuran Tinggi & Berat Badan …………………. 23
2) Pemeriksaan Bentuk Kaki …………………………….. 23
3) Pemeriksaan Bahu …………………………………….. 24
4) Pemeriksaan Tulang Belakang ………………………. 24
5) Pemeriksaan Perut …………………………………….. 25
6) Pemeriksaan Tangan ………………………………….. 26
7) Pemeriksaan Kulit …………………………………….. 26

a) Tindik ……………………………………………. 27
b) Tatto ……………………………………………… 27
c) Penyakit Kulit ………………………………….. 28

8) Test Berjalan …………………………………………… 28
9) Test Jongkok …………………………………………… 28
10) Test Keserasian ………………………………………… 29

4. Test mental Idiologi ……………………………….…………………… 30

a. Test Tertulis …………………………………………………… 30

1) Pengisian Daftar Riwayat Hidup ……………………. 30
2) Pengisian Daftar Keluarga …………………………… 32

b. Test Wawancara ………………………………………………. 33

1) Riwayat Hidup ………………………………………….. 33
2) Anggota Keluarga …………………………………….. 34
3) Pengetahuan Agama …………………………………… 34
4) Pandangan Hidup / Idiologi …………………………… 35
5) Pengetahuan Umum ………………………………….. 35

5. Test Psikotest …………………………………………………………… 36

a. Jenis Psikotest …………………………………………………. 36

1) Test IQ …………………………………………………… 36
2) Test Kepribadian ………………………………………… 36
3) Test Kemampuan ……………………………………….. 37
4) Test Kreatifitas …………………………………………. 37
5) Test Kesehatan Jiwa / Keswa ………………………… 37

b. Contoh Bentuk Soal Psikotest ……………………………….. 37

6. Pantukhir Daerah ……………………………………………………… 38

a. Tahap Persiapan ………………………………………………. 38
b. Tahap Pelaksanaan ……………………………………………. 39
c. Tahap Pengumuman …………………………………………… 40

7. Pantukhir Pusat …………………………………………..……………… 41

a. Pelaksanaan Seleksi ……………………………………………. 41
b. Pelaksanaan Sidang Pantukhir Pusat ………………………. 41
c. Pengumuman Lulus / Tidak …………………………………… 42
d. Mengikuti Pendidikan / Kembali Pulang …………………… 42

Bab III Penutup …………………………………………………………………. 43

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar